Medical check-up, cek latar belakang, dan dokumen rekrutmen: mana yang wajar
Menjelang tahap akhir seleksi, perusahaan biasanya meminta Anda menjalani medical check-up (MCU), menyerahkan dokumen, atau menyetujui pemeriksaan latar belakang. Sebagian besar permintaan ini wajar. Namun, tahap ini juga sering dimanfaatkan penipu yang mengatasnamakan perusahaan, dan ada batasan yang ditetapkan aturan.
Memahami mana yang lazim dan mana yang patut dicurigai membantu Anda melindungi diri tanpa membuat proses seleksi terhambat.
Medical check-up: yang umumnya wajar
Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja lazim dilakukan untuk memastikan Anda sehat dan cocok dengan jenis pekerjaannya, terutama untuk pekerjaan fisik, di pabrik, tambang, transportasi, atau layanan kesehatan. Isinya bisa berupa pemeriksaan fisik, tes darah dan urine, rontgen dada, tes penglihatan, atau tes bebas narkoba.
- MCU dilakukan di klinik atau rumah sakit yang ditunjuk, dengan jadwal dan surat pengantar resmi dari perusahaan.
- Biaya umumnya ditanggung perusahaan atau dijelaskan secara terbuka sejak awal.
- Hasil MCU berisi data kesehatan, yang menurut UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi termasuk data pribadi bersifat spesifik dan perlu dilindungi lebih ketat.
- Anda berhak bertanya untuk apa pemeriksaan tertentu dilakukan dan siapa yang akan melihat hasilnya.
Ada juga batasan khusus. Keputusan Menakertrans Nomor KEP.68/MEN/IV/2004 melarang pengusaha melakukan tes HIV sebagai prasyarat proses rekrutmen, dan mewajibkan informasi hasil tes dijaga kerahasiaannya.
Bila hasil MCU menunjukkan masalah
Hasil MCU yang kurang baik tidak selalu berarti Anda otomatis gugur. Banyak kondisi, misalnya kolesterol sedikit tinggi atau minus mata, tidak berpengaruh pada sebagian besar pekerjaan. Bila perusahaan menyatakan Anda belum memenuhi syarat kesehatan, Anda boleh bertanya dengan sopan aspek mana yang dinilai berkaitan dengan pekerjaan, dan apakah ada kesempatan pemeriksaan ulang.
Simpan salinan hasil pemeriksaan untuk diri sendiri bila diberikan, dan konsultasikan dengan dokter bila ada temuan yang perlu ditindaklanjuti. Kesehatan Anda tetap lebih penting daripada satu proses seleksi.
Pemeriksaan latar belakang dan referensi
Perusahaan bisa memverifikasi riwayat kerja, pendidikan, atau menghubungi referensi yang Anda cantumkan. Untuk posisi tertentu, misalnya keuangan, keamanan, atau yang memegang aset, Anda bisa diminta Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Ini hal yang lazim.
- Pemeriksaan yang wajar biasanya diberitahukan kepada Anda dan meminta persetujuan Anda.
- Beri tahu orang yang Anda jadikan referensi sebelumnya, agar mereka siap dihubungi.
- Catatan kejahatan dan data keuangan pribadi juga termasuk data pribadi spesifik menurut UU PDP, jadi permintaannya harus relevan dengan pekerjaan.
Dokumen yang lazim diminta
- Fotokopi atau pindaian KTP, kartu keluarga, ijazah, dan transkrip nilai.
- NPWP dan nomor rekening bank atas nama Anda untuk keperluan penggajian, biasanya setelah Anda diterima.
- Surat keterangan kerja atau paklaring dari perusahaan sebelumnya.
- Pasfoto, sertifikat keahlian, dan SKCK bila posisinya memerlukan.
Perhatikan kata “fotokopi” atau “pindaian”. Untuk pencocokan, perusahaan bisa meminta melihat dokumen asli sebentar, tetapi tidak menahannya. Surat Edaran Menaker Nomor M/5/HK.04.00/V/2025 melarang pemberi kerja mensyaratkan atau menahan ijazah dan/atau dokumen pribadi pekerja sebagai jaminan untuk bekerja, dengan pengecualian terbatas yang diatur dalam surat edaran tersebut.
Tanda bahaya yang perlu diwaspadai
- Diminta membayar biaya MCU, pelatihan, seragam, atau “administrasi” ke rekening pribadi, atau diarahkan ke klinik tertentu yang meminta transfer di muka.
- Diminta menyerahkan ijazah, BPKB, atau paspor asli sebagai jaminan.
- Diminta kode OTP, PIN, kata sandi, atau foto selfie sambil memegang KTP tanpa alasan yang jelas.
- Undangan MCU atau tes datang dari email gratisan atau nomor pribadi, dengan nama perusahaan yang sedikit berbeda dari aslinya.
- Diminta data yang tidak relevan dengan pekerjaan, misalnya foto seluruh badan untuk posisi administrasi, atau pertanyaan rinci tentang keyakinan dan rencana kehamilan.
Pada 2025, Kementerian Ketenagakerjaan juga menerbitkan Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/V/2025 tentang larangan diskriminasi dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Kemnaker menegaskan rekrutmen harus berdasarkan kompetensi dan kesesuaian dengan pekerjaan, serta informasi lowongan disampaikan secara benar, jujur, dan transparan.
Langkah aman yang bisa Anda ambil
- 1Verifikasi pengirimCek domain email dan hubungi nomor resmi perusahaan dari situs resminya.
- 2Tanyakan rincianMinta penjelasan tertulis soal jadwal, lokasi, dan siapa yang menanggung biaya.
- 3Serahkan salinan sajaBawa dokumen asli hanya untuk diperlihatkan, lalu bawa pulang kembali.
- 4Simpan buktiSimpan undangan, pesan, dan bukti penyerahan dokumen.
- 5Laporkan bila janggalGunakan tombol Laporkan pada lowongan di KarirResmi bila ada permintaan mencurigakan.
Di KarirResmi, pelamar tidak pernah dipungut biaya. Lowongan dengan lencana Terverifikasi berasal dari perusahaan yang NIB-nya cocok dengan data perizinan, dan lowongan yang berpola penipuan dideteksi serta ditahan. Tetap waspada: bila ada pihak yang meminta uang atas nama lowongan di KarirResmi, itu bukan prosedur resmi.
Rujukan
- UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (Wikisumber)
- JDIH Kemnaker — SE Menaker No. 5 Tahun 2025 tentang Larangan Penahanan Ijazah dan/atau Dokumen Pribadi
- Kemnaker — Menaker Terbitkan SE Larangan Diskriminasi dalam Proses Rekrutmen Tenaga Kerja
- JDIH Kemnaker — Kepmenakertrans No. KEP.68/MEN/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja
Informasi ini bersifat umum. Untuk keputusan penting, periksa aturan terbaru di sumber resmi atau konsultasikan dengan pihak berwenang.