Lewati ke konten
KarirResmi bagian dari Resmi.ID
Kembali ke Tips karier Wawancara

Menjawab “Apa kelemahan Anda?”, celah karier, dan alasan resign dengan jujur

Ada beberapa pertanyaan wawancara yang hampir selalu membuat pelamar gugup: “Apa kelemahan Anda?”, “Kenapa ada jeda dua tahun di CV Anda?”, dan “Kenapa Anda keluar dari pekerjaan sebelumnya?” Pertanyaan ini sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan. Pewawancara ingin melihat kejujuran, kesadaran diri, dan cara Anda menghadapi hal yang tidak nyaman.

Tim Resmi.ID · 4 menit baca ·
Ilustrasi artikel: Menjawab “Apa kelemahan Anda?”, celah karier, dan alasan resign dengan jujur

Kuncinya sederhana: jujur, singkat, dan arahkan pembicaraan ke apa yang sudah Anda pelajari atau lakukan. Berikut cara menyiapkannya.

“Apa kelemahan Anda?”

Hindari jawaban klise seperti “Saya terlalu perfeksionis” atau “Saya terlalu pekerja keras”. Pewawancara sudah sangat sering mendengarnya, dan jawaban itu terkesan menghindar. Pilih kelemahan nyata yang tidak menjadi inti pekerjaan yang Anda lamar, lalu tunjukkan langkah perbaikannya.

  1. 1Sebut kelemahannyaSatu kalimat yang jujur dan spesifik.
  2. 2Beri contoh dampaknyaCeritakan singkat kapan kelemahan itu terasa.
  3. 3Jelaskan perbaikanLangkah konkret yang sedang atau sudah Anda lakukan.
  4. 4Tunjukkan kemajuanHasil kecil yang membuktikan perbaikan itu berjalan.

Contoh untuk posisi staf administrasi: “Dulu saya kurang nyaman berbicara di depan banyak orang. Saat diminta presentasi laporan bulanan, saya cenderung membaca slide terlalu cepat. Sejak setahun lalu saya berlatih dengan merekam diri sendiri dan meminta atasan memberi masukan. Sekarang saya sudah rutin memaparkan laporan di rapat tim, walau masih terus berlatih untuk forum yang lebih besar.”

Jangan menyebut kelemahan yang langsung bertentangan dengan inti pekerjaan, misalnya “tidak teliti dengan angka” saat melamar posisi akuntansi, kecuali Anda benar-benar sudah mengatasinya dan bisa membuktikannya.

“Kenapa ada celah di CV Anda?”

Jeda karier adalah hal biasa. Orang berhenti bekerja karena PHK, mengurus anak atau orang tua, sakit, melanjutkan studi, merintis usaha, atau butuh waktu mencari pekerjaan yang cocok. Yang dinilai bukan jedanya, tetapi bagaimana Anda menjelaskannya dan apakah Anda siap kembali bekerja.

  • Jelaskan alasan dalam satu atau dua kalimat. Anda tidak wajib menceritakan detail pribadi, misalnya kondisi kesehatan secara rinci.
  • Sebutkan apa yang Anda lakukan selama jeda: kursus, kerja lepas, usaha kecil, kegiatan sosial, atau belajar mandiri.
  • Tegaskan kesiapan Anda sekarang dan kaitkan dengan posisi yang dilamar.

Contoh: “Setelah kontrak saya selesai pada 2024, saya merawat orang tua yang sakit selama sekitar setahun. Selama itu saya tetap mengambil pekerjaan input data lepas dan menyelesaikan kursus daring tentang spreadsheet. Kondisi keluarga sekarang sudah stabil, dan saya siap kembali bekerja penuh waktu.”

“Kenapa Anda resign?” atau “Kenapa ingin pindah?”

Apa pun alasan sebenarnya, jangan menjelekkan atasan, rekan, atau perusahaan lama. Pewawancara akan membayangkan Anda kelak berbicara dengan cara yang sama tentang perusahaan mereka. Fokuskan jawaban pada apa yang Anda cari, bukan apa yang Anda hindari.

  • Daripada “Atasan saya tidak menghargai kerja saya”, katakan “Saya mencari lingkungan dengan target dan umpan balik yang lebih jelas.”
  • Daripada “Gajinya kecil”, katakan “Saya ingin peran dengan tanggung jawab yang lebih besar, sesuai pengalaman yang sudah saya bangun.”
  • Bila terkena PHK atau kontrak tidak diperpanjang, katakan apa adanya dengan tenang: “Perusahaan melakukan efisiensi dan divisi saya ditutup.”
  • Bila Anda diberhentikan karena masalah kinerja, akui singkat, sebutkan pelajarannya, lalu tunjukkan perubahan yang sudah Anda lakukan.

Pertanyaan sulit lainnya

  • “Kenapa sering pindah kerja?” Jelaskan pola alasannya bila ada, misalnya kontrak proyek, lalu tegaskan apa yang membuat Anda ingin bertahan lebih lama di posisi ini.
  • “Kenapa melamar di luar jurusan?” Ceritakan keterampilan yang bisa dipindahkan dan langkah yang sudah Anda ambil untuk belajar bidang baru.
  • “Anda terlalu berpengalaman untuk posisi ini.” Jelaskan alasan Anda dengan jujur, misalnya ingin keseimbangan kerja atau pindah industri, dan tegaskan bahwa Anda memahami lingkup posisi itu.
  • “Apa yang akan dikatakan atasan lama tentang Anda?” Pilih penilaian yang benar-benar pernah Anda terima, karena bisa saja dicek lewat referensi.

Untuk semua pertanyaan di atas, pastikan jawaban Anda selaras dengan isi CV dan profil daring Anda. Perbedaan tanggal atau alasan yang berubah-ubah lebih mengkhawatirkan bagi perekrut daripada jeda kerja itu sendiri.

Pertanyaan pribadi yang tidak relevan

Kadang pelamar ditanya rencana menikah, kehamilan, agama, atau hal pribadi lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Anda boleh menjawab singkat bila nyaman, atau mengarahkan kembali dengan sopan: “Apa pun rencana pribadi saya, saya berkomitmen memenuhi tanggung jawab di posisi ini. Apakah ada hal terkait pekerjaan yang ingin Bapak/Ibu ketahui?”

Cara berlatih

Tulis jawaban untuk setiap pertanyaan sulit dalam tiga sampai lima kalimat, lalu latih dengan teman atau rekam di ponsel. Jawaban yang sudah dilatih akan terdengar tenang, bukan defensif. Ingat, satu pertanyaan sulit jarang menentukan hasil wawancara. Yang lebih diingat pewawancara adalah sikap Anda saat menjawabnya.

Siap melamar?Temukan lowongan dari perusahaan terverifikasi yang sesuai dengan keahlian Anda. Cari lowongan

Artikel lainnya