Di-ghosting setelah wawancara? Kapan dan bagaimana menindaklanjuti lamaran dengan sopan
Wawancara terasa lancar, perekrut bilang “nanti kami kabari”, lalu sunyi. Seminggu, dua minggu, tidak ada kabar. Pengalaman di-ghosting seperti ini membuat banyak pencari kerja bertanya-tanya: apakah saya ditolak, apakah boleh bertanya, atau justru akan terlihat memaksa?
Foto: Adam Satria / Unsplash
Anda tidak sendirian. Laporan Greenhouse “2024 State of Job Hunting”, berdasarkan survei terhadap 2.500 pekerja di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, mencatat 61% pencari kerja pernah di-ghosting setelah wawancara. Data itu bukan dari Indonesia, tetapi pengalaman serupa juga sering diceritakan pencari kerja di sini.
Mengapa perusahaan tidak memberi kabar?
- Perekrut menangani banyak posisi dan ratusan pelamar sekaligus.
- Proses internal tertunda: anggaran belum disetujui, atasan sedang dinas, atau kebutuhan berubah.
- Perusahaan masih menunggu kandidat pilihan pertama menjawab tawaran.
- Sebagian perusahaan memang tidak punya kebiasaan memberi kabar kepada kandidat yang tidak lolos.
Diam tidak selalu berarti ditolak. Namun Anda juga tidak perlu menunggu tanpa batas. Menindaklanjuti dengan sopan adalah hal yang wajar dan profesional. Pesan yang singkat dan ramah justru bisa mengingatkan perekrut pada lamaran Anda di tengah tumpukan kandidat lain.
Kapan waktu yang tepat untuk follow-up?
- 1Setelah melamarTunggu sekitar 1–2 minggu sebelum menanyakan status, terutama jika melamar lewat email langsung.
- 2Setelah wawancaraKirim ucapan terima kasih singkat di hari yang sama atau keesokan harinya.
- 3Melewati tenggatJika perekrut menyebut tenggat dan sudah lewat beberapa hari kerja, tanyakan statusnya.
- 4Tindak lanjut keduaJika belum dibalas, tunggu sekitar satu minggu lagi lalu kirim satu pesan terakhir.
- 5BerhentiSetelah dua kali tanpa respons, alihkan energi ke lamaran lain.
Contoh pesan terima kasih setelah wawancara
“Selamat sore Ibu Ratna, terima kasih atas waktu wawancara hari ini untuk posisi Staf Administrasi. Saya semakin tertarik setelah mendengar rencana tim untuk merapikan sistem arsip digital. Jika ada dokumen tambahan yang dibutuhkan, saya siap mengirimkannya. Salam, Andi Pratama.”
Contoh pesan menanyakan status
“Selamat pagi Ibu Ratna, semoga dalam keadaan baik. Saya Andi Pratama, kandidat posisi Staf Administrasi yang mengikuti wawancara pada 14 Oktober. Saya ingin menanyakan apakah ada perkembangan dari proses seleksi tersebut. Saya masih sangat tertarik dengan posisi ini. Terima kasih atas waktunya.”
Contoh pesan penutup
“Selamat siang Ibu Ratna, saya menindaklanjuti pesan saya sebelumnya mengenai posisi Staf Administrasi. Saya memahami proses seleksi bisa memakan waktu. Jika posisi tersebut sudah terisi, saya tetap berterima kasih atas kesempatannya dan berharap bisa dipertimbangkan untuk lowongan lain di masa mendatang. Salam, Andi.”
Pesan penutup seperti ini menjaga hubungan baik. Beberapa kandidat justru dihubungi kembali berbulan-bulan kemudian karena meninggalkan kesan profesional.
Tips menulis pesan follow-up
- Sebut nama Anda, posisi, dan tanggal wawancara agar perekrut mudah mengingat.
- Singkat: tiga sampai lima kalimat sudah cukup.
- Kirim di jam kerja, bukan larut malam atau akhir pekan.
- Gunakan saluran yang sama dengan yang dipakai perekrut sebelumnya.
- Jangan menyindir, misalnya “sudah dua minggu tidak ada kabar”.
Jangan balas meng-ghosting
Ghosting juga bisa dilakukan pelamar, misalnya tidak datang wawancara tanpa kabar atau menghilang setelah menerima tawaran. Jika Anda memutuskan mundur dari proses seleksi, sampaikan dengan singkat. Contoh: “Terima kasih atas kesempatannya, Ibu Ratna. Setelah mempertimbangkan, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ini. Semoga lancar menemukan kandidat yang tepat.”
Di KarirResmi, Anda juga bisa memakai konfirmasi hadir atau minta jadwal lain pada undangan wawancara, sehingga perekrut tahu rencana Anda tanpa harus saling menebak.
Sambil menunggu, tetap bergerak
Jangan menghentikan pencarian hanya karena satu proses terasa menjanjikan. Sampai ada surat penawaran tertulis, terus lamar dan ikuti seleksi lain. Jika akhirnya mendapat dua tawaran, itu posisi yang menguntungkan, bukan masalah.
Di KarirResmi, Anda dapat memantau status lamaran lewat linimasa, sehingga tahu apakah lamaran masih ditinjau atau sudah bergerak ke tahap berikutnya. Lamaran yang tidak diproses perusahaan akan ditutup otomatis disertai kabar, jadi Anda tidak terus menunggu tanpa kepastian. Perhatikan juga lencana Responsif pada perusahaan yang terbiasa menanggapi pelamar dengan cepat.
Terakhir, jangan mengukur nilai diri dari diamnya sebuah perusahaan. Ghosting lebih sering mencerminkan proses rekrutmen yang sibuk atau kurang tertata, bukan kualitas Anda sebagai kandidat.
Rujukan
Informasi ini bersifat umum. Untuk keputusan penting, periksa aturan terbaru di sumber resmi atau konsultasikan dengan pihak berwenang.